Selasa, 19 November 2013

BAB 7 MAKING A LIVING

Review Antropologi
Bab 7 Mata Pencaharian (Making a Living)

Pada bab ini akan diuraikan berbagai variasi dari strategi adaptif manusia dan sistem ekonomi-berkisar dari tahap berburu dan meramu hingga bercocok tanam dan berternak.
Strategi adaptif/ adaptive strategy untuk menggambarkan sistem-sistem grup dari produksi ekonomi (Cohen, 1974). Strategi adaptif terdiri dari lima tipologi yaitu: foraging (mencari makan, yaitu berupa hunting/ berburu dan gathering/ mengumpulkan makanan), horticulture (ladang berpindah), agriculture (bercocok tanam), pastoralism (menggembala), dan industrialism. Pada bab ini hanya akan dibahas 4 strategi adaptif pertama.
MENGUMPULKAN MAKANAN (FORAGING)
Kegiatan mengumpulkan makanan (foraging) dicirikan oleh masyarakat yang bergantung pada ketersediaan sumber daya natural sebagai sumber penghidupan mereka. Mereka tidak mengontrol atau mereproduksi tanaman dan hewan. Secara umum dalam sejarah manusia, system mengumpulkan makanan ini menjadi system utama manusia hingga 10.000 tahun lalu. Meskipun demikian, pada zaman modern ini, tetap ada beberapa kelompok masyarakat yang mempraktikkan system foraging khususnya pada jenis lingkungan tertentu, seperti sejumlah kecil pulau dan hutan, padang pasir dan area yang sangat dingin-di mana produksi makanan tidak dapat dipraktekkan dengan teknologi sederhana.
            Beberapa contoh kelompok masyarakat yang masih mempraktikkan sistem foraging hingga saat ini antara lain Suku San (“Bushmen”) di Gurun Kalahair, selatan Afrika dan Suku Eskimo atau Inuit di Alaska dan Kanada
BERCOCOK TANAM (CULTIVATION)
Horticulture (ladang berpindah/ shifting cultivation)
Hortikultur dalah jenis bercocok tanam yang tidak secara intensif menggunakan faktor-faktor produksi seperti tanah (land), tenaga kerja (labor), modal (capital), dan mesin (machinery). Pada sistem horticulture ini digunakan peralatan yang sederhana seperti cangkul atau tongkat kayu untuk menumbuhkan tanaman mereka. Lahan tidak bersifat permanen dan seringnya membuka lahan baru untuk masa waktu tertentu. System ini juga sering menggunakan teknik tebang-dan-bakar (slash-and-burn techniques).
Agriculture (pertanian)
Pertanian adalah salah satu jenis bercocok tanam yang mensyarakat tenaga kerja lebih ketimbang horticulture, karena sistem ini menggarap lahan secara intensif dan berkelanjutan. Kebutuhan akan tenaga kerja yang besar tampak pada usaha sistem ini unutk mendomestikasi hewan, melakukan sistem irigasi, dan atau terasering.
Penjinakkan Hewan
Pada zaman ini, manusia telah dapat memanfaatkan tenaga hewan untuk membantunya dalam bercocok tanam dan memproduksi makanan. Misalnya, kerbau untuk membajak sawah, sapi untuk dimakan dagingnya. Manusia telah bisa membedakan fungsi dan guna dari hewan bagi kelangsungan hidupnya, bukan hanya untuk makan, tetapi untuk upacara adat, dll.
Irigasi
Irigasi merupakan sistem pengairan sawah yang membutuhkan banyak pekerja. Karena tanah harus dibuat meningkat seperti tangga, dan diberi sistem pengairan dari atas sehingga manusia tidak perlu lagi bergantung pada air hujan untuk menyuburkan tanamannya. Manusia telah cerdik dalam memproduksi sumber makanannya. Namun, irigasi harus terus dipantau dan di maintenance agar pengairan terus berjalan dan tidak tersendat sehingga lahan dapat terus terairi dan menghasilkan produk yang baik.
Terasering
Terasering adalah penanaman dengan membuat teras-teras yang dilakukan untuk mengurangi panjang lereng dan menahan atau memperkecil aliran permukaan agar air dapat meresap ke dalam tanah. Jenis terasering antara lain teras datar, teras kredit, Teras Guludan, dan teras bangku
Teras Datar (level terrace). Teras datar dibuat pada tanah dengan kemiringan kurang dari 3 % dengan tujuan memperbaiki pengaliran air dan pembasahan tanah. Teras datar yang dibuat dengan jalan menggali tanah menurut garis tinggi dan tanah galiannnya ditimbunkan ke tepi luar, sehingga air dapat tertahan dan terkumpul. Pematang yang terjadi ditanami dengan rumput.
Teras Kridit (ridge terrace). Teras kridit dibuat pada tanah yang landai dengan kemiringan 3 - 10 %, bertujuan untuk mempertahankan kesuburan tanah. Pembuatan teras kridit di mulai dengan membuat jalur penguat teras sejajar garis tinggi dan ditanami dengan tanaman seperti caliandra.
Teras Guludan (cotour terrace). Teras guludan dibuat pada tanah yang mempunyai kemiringan 10 - 50 % dan bertujuan untuk mencegah hilangnya lapisan tanah
Teras Bangku (bench terrace). Teras bangku dibuat pada lahan dengan kelerengan 10 - 30 % dan bertujuan untuk mencegah erosi pada lereng yang ditanami palawija.
BETERNAK DAN MENGGEMBALA (PASTORALISM)
Kegiatan beternak dan menggembala berbeda dengan kegiatan domestikasi hewan yang mana hewan hanya digunakan untuk mesin produksi. Contoh masyarakat yang masih menggunakan system ini adalah kelompok-kelompok masyarakat di Afrika Utara, Timur Tengan, Eropa, Asia, dan sub-Sahara Afrika. Mereka menggembalakan mulai dari sapi, kambing, domba, unta, dan yak.
Pastoral nomadism adalah suatu jenis kegiatan beternak dan mengembala di mana seluruh anggota grup-wanita, pria, dan anak-anak- pindah beserta hewan ternak mereka sepanjang tahun.
Transhumance adalah kegiatan beternak dan mengembala yang hanya disertai perpindahan sebagian dari anggota grup, tetapi sebagian besar anggota kelompok tinggal di suatu desa  
CARA-CARA PRODUKSI (MODES OF PRODUCTION)
Ekonomi adalah suatu system yang mengatur aktivitas produksi, distribusi, dan konsumsi atas sumber daya. Cara produksi menunjuk pada suatu cara untuk mengorganisasi kegiatan produksi. Pada system capital, cara produksi memiliki khas di mana tenaga kerja “dibeli” oleh uang dan terdapat gap social antara anggota masyarakat (contoh bos dan karyawan). Sedangkan pada masyarakat non-industri, tenaga kerja tidak bekerja semata-mata karena uang tetapi lebih karena adanya rasa kewajiban dan tanggungjawab. , tenaga kerja, dan teknologi.
Alat-alat produksi
Alat/ factor produksi adalah sumber daya utama yang dapat digunakan untuk kegiatan produksi, contohnya seperti lahan, tenaga kerja teknologi, dan modal. Pada masyarakat non-industri, terdapat hubungan yang erat antara pekerja dan alat-alat produksi. Alat atau factor produksi termasuk di dalamnya adalah lahan (wilayah).
Alienasi pada system ekonomi industrial
Pada system ekonomi industrial, pekerja menghasilkan pekerjaan bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk kepentingan pabrik, yang mana menghasilkan kondisi keterasingan pada diri pekerja. Contoh fenomena ini terjadi pada para pekerja wanita di Malaysia.
ECONOMIZING DAN MAKSIMISASI
Economizing adalah suatu sikap rasional untuk mengalokasikan sumber daya langka untuk berbagai alternative pilihan kebutuhan/ penggunaan. Pilihan alternative itu sendiri antara lain, subsistence fund (pengeluaran untuk bertahan hidup seperti makan), replacement fund  (anggaran untuk merawat alat-alat bekerja seperti memperbaiki cangkul yang rusak), social fund (keperluan untuk membantu teman, kenalan, tetangga), ceremonial fund (dana untuk kegiatan-kegiatan ritual, seperti festival,  acara desa, dsb.), dan terakhir adalah rent fund (anggaran  untuk membayar sewa-sewa, seperti sewa tanah yang harus dibayarkan kepada pemilik tanah).
Petani (peasant) adalah jenis agrikulturalis berskala kecil yang tinggal di daerah non-industrial dan memiliki kewajiban untuk membayar sewa. Pada konteks petani ini, logika ilmu ekonomi untuk mengalokasikan sumber daya demi profit atau keuntungan pribadi sulit berlaku, karena kenyataannya para petani tersebut harus mengalokasikan sumber dayanya untuk membayar sewa tanah, ketimbang dialokasikan untuk anggaran-anggaran lainnya.
DISTRIBUSI, PERTUKARAN
Menurut Karl Polanyi (1968), terdapat tiga jenis pertukaran yaitu: prinsip pasar, redistribusi (distribusi kembali), dan reciprositas (hubungan timbal balik). Prinsip-prinsip pertukaran tersebut dapat hadir dalam kelompok masyarakat yang sama, tetapi pada kasus ini mereka berlaku pada jenis transaksi yang berbeda. Pada masyarakat yang lain, biasanya salah satunya yang mendominasi. Prinsip-prinsip ini mengatur alokasi dari alat-alat produksi.
Prinsip Pasar
Pada system ekonomi kapitalis yang berlaku di dunia saat ini, prinsip pasar mendominasi. Prinsip ini mengatur distribusi dari alat-alat produksi, seperti lahan, tenaga kerja, sumber daya alam, teknologi, dan modal. “Pertukaran pasar mengacu pada proses organisasional dari pembelanjaan dan penjualan dengan harga tertentu.” (Dalton, ed. 1967; Madra 2004). Dengan pertukaran pasar, barang dibeli dan dijual, menggunakan uang, dengan tujuan untuk memaksimalkan keutungan, dan nilai ditentukan oleh hokum penawaran dan permintaan.
            Tawar menawar (bargaining) adalah karakteristik dari pertukaran prinsip pasar. Pembeli dan penjual berusaha keras untuk mencapai “keuntungan”. Dalam proses tawar menawar, pembeli dan penjual tidak perlu bertemu secara langsung. Prinsipnya proses tersebut dapat tetap berlangsung.
Redistribusi
            Redistribusi terjadi ketika barang, jasa, atau hal lain yang setara dengan itu bergerak dari level  lokal ke pusat. Pusat yang dimaksud dapat berupa ibu kota, titik-titik pengumpulan di berbagai daerah, atau gudang penyimpanan dekat hunian kepala suatu daerah.contohnya adalah suku Cherokee pada Lembah Tennesse. Lum selesei
Resiprositas
            Resiprositas adalah jenis pertukaran yang terjai pada hubungan social yang setara (equals), yang umumnya memiliki hubungan kekerabatan, pernikahan, atau jenis ikatan personal lainnya. Karena jenis pertukaran ini terjadi pada hubungan social yang setara, maka resiprositas dominan berlakuk pada masyarakat yang egaliter-seperti di antara para pengumpul makanan (foragers), petani, dan peternak. Terdapat tiga tingkat dalam hubungan resiprositas: generalized, balanced, dan negative (Sahlins 1968, 2004; Service 1966). Tingkatan ini bersifat kontinum dengan indicator:
1.      Seberapa dekat hubungan antar pihak yang melakukan pertukaran?
2.      Seberapa cepat dan tidak bersifat egois dari hubungan resiprositas yang terjadi?
Generalized reciprocity, jenis termurni dari hubungan resiprositas, terjadi pada pihak-pihak yang memiliki hubunga yang erat. Pada balanced reciprocity, jarak social meningkat, demikian juga dengan kebutuhan akan timbal balik (reciprocate). Sedangkan pada negative reciprocity, jarak social semakin besar dan hubungan timbal balik yang terjadi semakin diperhitungkan. Rentang tersebut, dari generalized menuju negative, disebut reciprocity continuum.
            Pada generalized reciprocity, seseorang memberikan sesuatu pada orang lain dan tidak mengharapkan apapun yang kongkret atau pengembalian segera.  Balanced reciprocity berlaku pada pertukaran antara pihak-pihak dengan jarak hubungannya lebih “jauh” dariada anggota suatu grup atau kerabat. Pertukaran negative reciprocity, biasanya terjadi ketika seseorang melakukan pertukuran dengan “orang luar” atau anggota masyarakat yang berada pada “pinggiran” system social mereka.
            Generalized dan balanced reciprocity didasakan pada kepercayaan dan ikatan social, tetapi negative reciprocity tidak demikian, terdapat usaha atau pikiran untuk segera memperoleh sesuatu dari lawan interaksi, bahkan sampai menggunakan cara-cara yang licik, manipulasi atau curang.   
POTLACHING
Salah satu studi kebudayaan yang bersifat menyeluruh yang pernah diketahui ilmu etnografi adalah studi mengenai potlatch, satu jenis event berupa perayaan di mana di dalamnya terjadi system pertukarang refional di antara suku-suku di Pesisir Utara Pasifik Amerika Utara. Contoh suku-sukunya adalah suku Salish dan suku Kwakiutl dari Washington dan British Columbia dan suku Tsimshian dari Alaska. Pada event tersebut, didukung oleh anggota komunitas mereka, para sponsor potlatch biasanya akan menyerahkan makanan, selimut, kepingan tembaga, dan benda lainnya. Dengan memberikan potlatch akan meningkatkan reputasi seseorang. Prestis meningkat seiring dengan aktivitas menghambur-hamburkan pemberian potlatch, nilai dari barang tersebut juga ikut diberikan.
            Suku-suku yang melakukan potlatching adalah para pengumpul makanan (foragers), tetapi bukan jenis yang umum. Mereka justru menetap dan memiliki pemimpin suku. Mereka memiliki akses terhadap berebagai jenis lahan dan sumber daya laut. Di antara jenis makanan yang paling penting bagi mereka adalah salmon, ikan herring, candlefish (ikan lilin), buah beri, kambing gunung, kerang, dan ikan lumba-lumba.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar